Jumat, 23 Februari 2024

Anak Kami "Hilang"

Tanggal 29 Oktober lalu istri gue ngeluh sakit perut dan pinggang terus. Beberapa hari terakhir tiap mau tidur selalu minta dielus perut dan belakangnya. Kupikir mau period. Sampai tiba tanggal 31 Oktober lalu dia kesakitan parah perutnya. Katanya melilit dan sakit sekali ga seperti biasanya. Gue tanya aktivitas tadi ngapain saja? Dia bilang habis nyuci baju. Oh pantes kupikir. Sampai tiba pukul 17:00, dia bilang ayo kita ke Puskesmas, bapak. Ga tahan lagi sakitnya. Langsung kami bergegas. Gue telpon mertua untuk ke rumah biar anak gue ada yang jaga, kebetulan lagi sakit juga demam. 

Pergilah kami ke Puskesmas (500 m dari rumah). Sampai Puskesmas disambut sama teman-teman kami sebagai petugas di sana. "Kenapa ka?" langsung Istri gue jawab "Sakit perut ini melilit dari 3 hari lalu tapi paling sakit pas sekarang ini". "Sudah telat berapa hari?" tanya susternya. "Sudah semingguan sih ini". "Yaudah test dulu yaa. Kuambilkan dulu testpacknya". Kata susternya. Tidak lama petugasnya sudah datang, gue dan istri menuju ke toilet. sat set sat set, istri gue ketawa "Hamil nih hahaha". Gue yang masih ga yakin langsung melihat testpacknya. Beneran 2 garis sangat jelas. Langsung kami pelukan tertawa. Senang sekali rasanya. Gue mau jadi bapak-bapak 2 anak nih pikir gue. Langsung dipindahkan ke petugas bidan untuk konsultasi dan pencatatan administrasi ibu hamil. Setelah itung-itungan tanggal terakhir period, disimpulkan usia kandungannya sudah 5 minggu. Beres semuanya, kami pulang. Nyampein kabar ke keluarga. Semua senang yang denger. "Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah" terdengar suara keluarga. Semenjak malam itu istri gue mulai rutin konsumsi vitamin yang dikasih dari Puskesmas. Gue langsung bergegas beli susu prenagen sesuai perintah Istri. Semua berjalan baik. 


Tanggal 4 November kata ibu gue ada pemeriksaan dokter Obgyn di Puskes tanggal 5 November nanti. Mau di daftarin? Kami serentak bilang "Iya". Karena memang di daerah kami masih belum ada dokter Obgyn even itu di rumah sakit. Sehingga kami harus ke Gorontalo atau Manado dulu kalau mau periksa kehamilan. Katanya akan dimulai pemeriksaan jam 11.00. Kami menuju Puskes jam 12.00. Sampai jam 15.00 dokternya masih belum datang. Baru di mulai sekitar jam 16:30. Kami kebagian pas magrib. Tiba giliran kami, masuklah kami ke ruangan pemeriksaan. Setelah di USG, teng deng teng deng tidak ada kantung kehamilan sama sekali. Kok bisa ya dalam hati gue? Lantas hasil testpack kemarin kok bisa 2 garis? Apa yang salah nih? Akhirnya kata Dokter coba testpack lagi tapi pengambilan urinnya lewat kateter supaya lebih bersih. Hasilnya? Negatif dong. Dokter menjelaskan kemungkinan Hormon kehamilan lagi naik, sehingga kebaca positif. Gue ga abis pikir sebenarnya. Tapi yaudahlah mau gimana. Lesu gue saat itu tapi it's okay, gue dan Istri berusaha saling ketawa saja sambil saling menguatkan. "Belum rejeki yaa bapak hehe". Aman bu. belum rejeki. Siapa tau nanti pas rumah sudah jadi ya Bu. 

Sejujurnya dibalik kesedihan kami, ada sedih anak kami juga yang udah ingin sekali punya adik. Dia nyebutnya Ultraman. Nanyain terus kapan Ultraman keluar dari perut ibunya. Istri gue kemarin malam curhat kalo dia sedih sekali ingat kejadian itu. Dia nyalahin dirinya yang ga bisa ngejaga. Tapi itu sama sekali bukan kesalahannya. Memang belum rejekinya saja. Semoga istri cepat kembali ceria lagi.

Buat Ceiba, sabar ya de. Nanti Ultraman akan keluar kalo sudah jadi rumahnya 

Buat Ibu, terima kasih yaa sudah jadi Istri dan Ibu yang super-duper luar biasaa. Semoga ibu sehat selalu dan bahagia serta ceria kembali. Bapak proud dan beruntung punya ibu. Peluk cium, 

-Bapak-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar